[WN] Yujinchara no Ore ga Motemakuru Wakenaidaro? Volume 3 - Bab 13

Bab 13
Duet


Setelah selesai bermain bowling, kami pindah ke lantai berikutnya untuk membeli minuman di Drink Bar sebelum memasuki ruang karaoke.

“Nah, Senpai akan duduk di sampingku! Kakakku akan duduk di depanku. Dan untuk Hasaki-senpai, kenapa kau tidak melakukan latihan otot di luar ruangan?”

Begitu kami memasuki ruangan, Touka dengan cepat memberikan instruksi, tapi...perlakukannya terhadap Hasaki sangat buruk.

“Kalau begitu, aku akan duduk di pangkuan Yuuji-kun!”

“Hah, apa yang kau bicarakan? ...Bukankah sikapmu itu terlalu menjijikkan?”

Meninggalkan dua orang yang saling memanas itu, aku duduk di samping Ike.

“Apa kau yakin mau duduk di sampingku, fakboy?” tanya Ike dengan nada mengejek.

Melihat ke arah wajahnya, aku jadi ingin mengatakan ‘aku tidak mau mendengar itu darimu’.

“Ngomong-ngomong, bagaimana cara mengoperasikan ini?”

Ketika aku diajari oleh Ike bagaimana cara mengoperasikan kontrol layar sentuh...

“Yuuji-senpai akan duduk di sampingku, kan?”

“Aku akan duduk di pangkuan Yuuji-kun, kan!?”

Kana dan Touka bertanya pada saat yang bersamaan.

“Aku akan duduk di samping Ike, dan aku tidak ingin memberikan pangkuan pada Kana. Kalian berdua bisa duduk bersebelahan di sisi itu.” seruku sambill menunjuk sofa yang ada di seberang kami.

Terhadap perkataanku, Touka dan Kana melihat ke arah Ike yang ada di sebelahku, dan akhirnya menunjukkan ekspresi putus asa. Kemudian, seperti yang diperintahkan, mereka duduk di sofa yang ada di seberang kami dengan enggan.

“Mereka sama sekali tidak mau mendengarkan perkataanku, tapi ketika pria yang mereka cintai berkata, mereka berdua langsung mendengarkannya dengan patuh.”

Sekali lagi, Ike mengatakan itu dengan nada mengejek.

Dia ini masih tetap seperti dirinya yang bisanya, selalu bersenang-senang.

“Untuk sekarang, aku akan memilih lagu.”

Mengatakan itu, Ike memilih sebuah lagu.

Mesin karaoke memutarkan musik, dan liriknya ditampilkan di layar. Lagu ini adalah lagu yang bahkan aku juga tahu, lagu dari penyanyi sekaligus penulis lagu yang populer.

Aku tidak yakin tentang pemilihan laguku, tapi kupikir akan bagus untuk memilih lagu yang bisa dinikmati semua orang. Dengan pemikiran itu, aku melakukan hal yang sama, dan memilih lagu yang semua orang tahu.

Kemudian, Ike mulai bernyanyi.

Suaranya jernih, nada serta ritmenya sangat sempurna. Sepertinya si Protagonis Ike juga sempurna dalam hal berkaraoke.

Mungkin jika Tatsumiya dan para penggemar Ike mendengarnya, mereka pasti akan pingsan melihat betapa kerennya dirinya.

Namun, kedua gadis yang ada di sini...

“Penyanyi dari lagu ini, terkadang aku melihatnya di TV, dia benar-benar terlihat seperti orang yang narsis.”

Kana yang merupakan teman masa kecilnya mengatakan itu tanpa mempedulikannya, dan Touka hanya diam memainkan ponselnya.

Mungkin jauh lebih baik bagi kalian berdua untuk berganti posisi saja dengan Tatsumiya...!

Aku merasa agak kesal dan meratap di dalam hati.

“Kau memang hebat Ike, suaramu merdu.” kataku saat Ike selesai bernyanyi.

“Meskipun mereka berdua tampak tidak menyukainya.”

Setelah menjawab seperti itu, dia menyerahkan mikrofon kepadaku.

Begitu aku menerimanya, lagu mulai dimainkan.

“Oh, aku sangat menyukai lagu ini!”

“Selera lagumu bagus sekali, Senpai! Keren banget~♡”

Tiba-tiba, Touka dan Kana memujiku setinggi mungkin.

Itu benar-benar bikin canggung.

Bahkan setelah aku mulai bernyanyi, mereka akan bergabung dan membuat lagu itu menjadi lebih menarik.

...Itu sangat memalukan.

Ketika aku selesai bernyanyi sambil menahan rasa malu,

“Whoa, Kau hebat Yuuji-kun~!”

“Kau luar biasa Senpai! Aku jadi tambah cinta padamu♡”

Dua orang yang mencoba membuatku jatuh cinta padanya mengatakan itu.

“Y-Ya.”

Saat aku menjab begitu, lagu kembali diputar.

“Oh, ini lagu yang kupilih!”

Lagu yang Touka nyanyikan adalah lagu cinta dari penyanyi wanita yang populer. Dia punya suara yang merdu dan dan teknik menyanyinya sempurna.

Aku pun terus mendengarkan nyanyian Touka.

“...Bagaimana nyanyianku, Senpai?”

Setelah selesai bernyanyi, Touka menanyakan itu padaku.

“Itu sangat merdu, aku senang mendengarnya.”

Saat aku mengatakan itu, Touka jadi terlihat malu-malu.

“Baguslah kalau begitu.” serunya dengan ekspresi lega.

“Lagu yang dipilih Touka-chan benar-benar pasaran, bukan?” Kana mengatakan itu dengan senyuman di wajahnya.

“Hah? Nyebelin banget!!” Touka membalasnya dengan senyuman yang sama sepertinya.

Agak menakutkan.

“Selanjutnya aku yang akan bernyanyi, aku ingin Yuuji-kun mendengarkannya!”

Dan kemudian, setelah mengatakan sesuatu yang sangat mengejek, Kana mulai bernyanyi. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang dibawakan oleh grup idol wanita. Itu adalah lagu cinta yang dinyanyikan dengan lembut.

Meskipun tidak semerdu Touka, tapi jika Kana yang selalu ceria menyanyikan lagu seperti ini...kupikir itu enak untuk didengarkan.

“Bagaimana, Yuuji-kun? ...Apa kau deg-degan?”

Setelah selesai bernyanyi, Kan menoleh dan bertanya kepadaku.

...Sejujurnya, aku deg-degan melihat Kana menyanyikan lagu dengan cara yang berbeda dari dirinya yang biasa.

“Ya, itu bagus.”

Saat aku menjawab, Kana tersenyum malu-malu.

“Senang mendengarnya...”

Di sisi lain, Touka yang mendengar itu,

“Itu adalah lagu yang benar-benar cocok untukmu, Hasaki-senpai.”

Secara mengejutkan dia memujinya.

“B-Begitukah?”

“Ya, itu cocok sekali untuk Hasaki-senpai, yang merupakan gadis membosankan seperti lirik lagunya.”

Kana pun langsung kesal terhadap perkataan Touka.

Dan ketika dua orang itu saling menyebarkan percikan api,

“Aku mau pergi ke Drink Bar, apa ada yang mau kalian pesan?” tanya Ike dengan ramah.

““Teh!””

Mereka berdua merespon pada saat bersamaan.

Kurasa akan sulit untuk membawa minuman untuk tiga orang sendirian, maka dari itu,

“Aku akan membantumu.”

“Benarkah? Terima kasih.”

Berpikir demikian, aku meninggalkan ruangan dengan Ike.

Tidak ada orang lain di konter Drink Bar.

Ketika aku meletakkan cangkir di mesin dan menunggu kopi diseduh,

“Terima kasih, Yuuji.” kata Ike.

“Jangan khawatirkan itu, lagian akan lebih cepat kalau ada dua orang.”

Saat aku mengatakan itu, Ike tertawa.

“...Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu?”

Saat aku menanyakan itu, Ike menoleh ke arahku dengan ekspresi tenang.

“Tidak, yang kumaksud tadi bukan tentang itu.”

“Lalu, apa yang barusan kau bicarakan? Tidak ada alasan bagimu untuk berterima kasih.”

“Ini tentang Touka dan Kana.”

“Apa?”

Aku menanggapi perkataannya dengan tercengang.

Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“...Aku sudah lama tidak melihat Touka tertawa ceria seperti itu. Dia biasanya hanya tertawa dengan wajah dingin dan memaksakan senyumnya di permukaan... Dia yang berubah seperti itu jelas semenjak dia berpacaran denganmu, Yuuji.”

Setelah mengatakan itu, Ike tersenyum padaku.

Terhadap kata-katanya yang begitu lugas, aku tidak bisa menanggapinya dengan baik.

“Kana juga sama. Dia memang terus bersikap ceria, tapi dia pasti memiliki sesuatu di dalam hatinya yang bahkan tidak bisa dia bicarakan padaku. Keadaan saat ini mungkin baru dimulai kembali. Tapi meski begitu, dia terlihat tersenyum langsung dari lubuk hatinya.”

Setelah mengambil napas, Ike melanjutkan.

“Sampai kami masuk SMP, kami bertiga dulu sering bermain bareng. Tapi kemudian, Touka menjadi tertekan, dan Kana menjadi terobsesi dengan pemikirannya. Dan tau-tau, kami bertiga tidak bermain bersama lagi. ...Meskipun aku menyadari itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ketika itu menyangkut Touka... Aku hanya terus membuatnya kesal.... Oleh karena itu, aku menyerah pada gagasan bahwa kami akan bisa untuk kembali ke hubungan yang kami miliki sebelumnya. Tapi—” seru Ike, dengan tatapan yang memandang ke arah yang jauh.

“Melihat meraka yang sangat dekat, dan terus-terusan mengejekku. Itu mengingatkanku pada pertukaran yang kami lakukan saat itu... Itu membuatku bahagia.”

Aku terkejut bahwa Ike diperlakukan dengan buruk, tapi tampaknya itu adalah apa yang dia inginkan.

“...Pada hari sesi belajar diadakan, kau sempat bilang kalau aku, kau, dan Touka harus pergi bersama, kan? Aku sangat senang tentang itu. Kupikir dirimu bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan. Kalau sudah seperti itu, kita berempat, termasuk Kana, akan bisa bersama. Itu sebabnya, aku sangat berterima kasih, Yuuji.“

Dia mengatakan itu dengan senyum yang sangat, sangat lembut kepadaku.

Sebelum aku menyadarinya, penyeduhan sudah selesai, dan aku melihat ke arah kopi yang telah diisi di cangkir.

“...Seperti yang kupikirkan, tidak ada alasan untuk berterima kasih kepadaku.”

Memang benar, aku mungkin telah membantu meningkatkan hubungan antara Ike dan Touka. Tapi aku tidak melakukan apapun tentang Kana.

Aku hanyalah katalis.

Jika demikian, tidak mungkin aku bisa menerima ucapan terima kasih dari Ike?

Malahan, budi yang kuterima dari Ike... adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kubayar kembali.

Jadi meskipun aku senang mendengarnya mengatakan itu. Tetap saja, aku tidak bisa menerimanya. Itulah yang kupikirkan.

“...Apa kau mencoba membuat dirimu terlihat keren?”

“Bacot.”

Aku jadi malu mendengar ejekan darinya, jadi aku hanya membalasnya dengan singkat.

...Karakter sampingan (aku) tidak dapat berdiri di sebelah Protagonis (Ike) kecuali jika dia sedikit keren.

Terhadap balasanku, Ike hanya terkekeh.

Kemudian, dengan ekspresi serius di wajahnya, dia berkata.

“...Aku tidak terlalu khawatir tentang ini, tapi ada satu hal... Memang benar kalau Touka adalah adikku, tapi bagiku Kana juga sudah seperti adikku. Itu sebabnya, aku tidak tahu bagaima hubungan antara dirimu dan mereka bedua akan berubah di masa depan. Tapi, aku ingin kau memperlakukan mereka dengan tulus.”

Aku mengangguk saat bertemu dengan tatapan lugasnya.

“...Ya.”

Tidak ada keraguan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang penting bagiku. Jadi aku tidak ingin menyakiti mereka.

Puas dengan jawabanku, Ike menampilkan senyum cerah dan menyegarkan seperi biasanya.

“Aku senang mendengarmu mengatakan itu. Nah, kurasa sudah waktunya untuk kita kembali ke ruangan?”

Aku mengangguk dalam diam pada perkataannya.

---

Setelah dengan cepat menuangkan teh untuk Touka ke dalam gelas, aku kembali ke ruangan bersama Ike.

““Ah””

Di dalam ruangan, ada pemandangan yang mengejutkan.

Yang mengejutkan itu adalah, Touka dan Kana sedang berduet.

Aku dan Ike pun saling memandang.

“Sepertinya kalian berdua sangat akrab.”

Saat aku mengatakan itu, wajah mereka menjadi merah cerah, dan kemudian menunduk dengan canggung,

“Ini disebabkan karena keinginan berduet denganmu, Yuuji-kun!”

“’Siapa yang lebih cocok sebagai partner bernyanyi Yuuji-senpai?’ Untuk memutuskan itu, kami bernyanyi bersama!!”

Mereka berdua dengan cepat menjelaskan.

Setelah meletakkan gelas di atas meja, untuk saat ini aku dan Ike duduk di sofa.

Padahal tadi mereka terlihat begitu bersenang-senang saat bernyanyi bersama.

Saat aku mendengarkan perkataan dari dua orang yang masih menjelaskan itu, Ike, yang duduk di sampingku, mengangkat bahunya.

“Hei, kalian. Jika itu alasan kalian berduet, maka kalian tidak perlu berduet lagi.”

Terhadap perkataan yang tidak bisa dimengerti dari Ike,

“Hah? Apa yang kau bicarakan?”

“Apa maksudmu, Haruma?”

Mereka berdua menampilkan ekspresi penuh tanda tanya.

“Itu karena... Yuuji akan berduet denganku!”

Setelah mengatakan itu, Ike menepuk bahuku.

Melihat itu, Touka dan Kana menjadi sangat marah.

“Hah!? Apa maksudmu, aku tidak mengerti!?”

“Itu benar, hal seperti itu mana mungkin!”

“Kupikir itu terserah pada Yuuji untuk memutuskan apakah itu mungkin atau tidak?” seru Ike meminta persetujuanku.

Wajahnya yang begitu tampan mendekatiku. Jika dia melakukan ini pada Tatsumiya dan penggemarnya yang lain, mereka pasti akan pingsan oleh ketampanannya.

...Sayangnya, aku adalah laki-laki.

“Ya, ayo bernyanyi bersama.”

Aku menjawab Ike tanpa kewalahan atau pingsan.

“Apa-apaan ini, tidak bisa diterima!?”

“Itu benar, dasar Haruma goblok!”

Mengabaikan protes dari mereka berdua dengan senyum menyegarkan, Ike, yang memilih lagu duet grup pria, memberikan mikrofon kepadaku.

“Hal seperti ini bisa diterima kan, bung?”

Aku menerima mikrofon dari Ike.

“Ya.” jawabku sambil mengangguk.

Aku pun bernyanyi dengan Ike di depan Touka dan Kana, yang menampilkan ekspresi kesal di wajah mereka.


close

9 Comments